Bali Kerthi

Pulau Bali Secara Nyata Wujudkan Transisi Energi Bersih Sesuai Tema Presidensi G20

BALIOTONOM.id (9/8/2022)| Kebijakan Gubernur Bali, Wayan Koster tentang Energi Bersih sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 mendapatkan apresiasi dalam forum Sustainable Economic Recovery by Promoting Solar Pv Development: Maximizing Economic Benefits and UtilizingTransformational Financial Mechanism to Support Rooftop Solar PV Deploymentin Bali.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Republik Indonesia bekerjasama dengan Clean, Affordable and Secure Energy (CASE) for Southeast Asia pada, Selasa (9/8/2022 )di BNDCC, Nusa Dua, Badung.

Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi Bali dipilih sebagai tempat pelaksanaan pertemua nyang bertajuk Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan dengan mempromosikan pengembangan Solar PV: Memaksimalkan manfaat ekonomi dan memanfaatkan mekanisme keuangan internasional untuk mendukung penerapan PLTS atap di Bali.

“Pertemuan dan para peserta berkontribusi langsung dalam upaya pemulihan pariwisata dan perekonomian Bali,” ungkap Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Mengenai Transisi Energi Berkelanjutan guna mendukung pemulihan ekonomi, kata Wayan Koster sejalan dengan kebijakan dan program Provinsi Bali di bidang energi yang diarahkan agar Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih sebagai implementasi Visi: “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

Dalam menerapkan energi bersih di Pulau Bali, Gubernur Wayan Koster menyatakan telah menganti tenaga listrik yang semula berbahan bakar minyak (fosil) di Pesanggaran, Denpasar dengan bahan bakar gas berkapasitas 220MW. Kemudian memperbaiki sistem pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara di Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng berkapasitas 380 MW dengan mengelola sistem ramah lingkungan.

Ia menambahkan segera akan menganti pembangkit tenaga listrik berbahan bakar minyak di Gilimanuk, Jembrana berkapasitas 125 MW dan di Pemaron, Buleleng berkapasitas 90 MW dengan bahan bakar gas.

Sedangkan pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara dari Paiton, Jawa Timur yang kapasitasnya 340 MW ada saat ini melalui kabel bawah laut, akan difungsikan sebagai cadangan (reserve sharing), ketika Kami sudah mampu memenuhi kebutuhan energi secara mandiri di Bali.(*/02)

 

Back to top button