Opini

Analog Switch Off, Antara Teknis dan Content

OPINI
Oleh: Budiharjo
(Pengajar Komunikasi Undiknas)

BALIOTONOM.id (30/6/2022)| Dalam beberapa bulan terakhir, iklan layanan masyarakat tentang Analog Switch Off (ASO), peralihan siaran televisi analog ke siaran televisi digital terus tayang di berbagai stasiun televisi di Indonesia. Bahkan penyanyi sekaliber Agnes Mo yang sudah malang melintang di blantika musik internasionalpun mau berperan dalam iklan layanan masyarakat mengumandangkan tagline “Bersih Gambarnya, Jernih Suaranya dan Canggih Teknologinya”.

Memang kini program ASO tengah bergulir dan memasuki tahap pertama dari tiga tahap yang direncanakan. Dijadwalkan televisi analog benar-benar dimatikan paling lambat 2 November 2022.

Menyambut ASO yang di beberapa negara sudah jauh-jauh hari dilaksanakan, paling tidak ada dua pertanyaan besar yang mengemuka seiring dengan semangat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mensosialisasikan program besar tersebut.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Pertama tentang pemahaman masyarakat tentang ASO dan minat mereka untuk menyuseskannya. Dan kedua tentang “content“ atau isi program untuk mengimbangi peralihan teknologi tersebut.

Kita tidak akan bahas tentang pemahaman dan minat masyarakat yang sudah sering dibicarakan, tetap khusus tentang program siaran atau “content“ untuk mengimbangi digitalisasi yang membuat siaran semakin canggih.

Selama ini, banyak yang menilai content program televisi yang berkualitas sangatlah minim. Banyak menampilkan acara yang tidak rasional, tidak logis dan minim content edukasi yang bermanfaat untuk publik.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Program televisi kebanyakan tidak menampilkan fungsi ideal media massa melalui informasi yang mencerahkan, pendidikan yang mencerdaskan, hiburan yang menyenangkan serta kontrol sosial yang konstruktif dan solutif.

Stasiun-stasiun televisi kebanyakan mementingkan rating dari pada menjalankan fungsi media massa secara ideal. Jam-jam potensial “prime time“ ditayangkan program yang banyak pemirsanya dengan tidak mempedulikan kualitas pesan yang ingin disampaikan. Stasiun-stasiun televisi mementingkan rating untuk menjaring iklan sebanyak-banyaknya.

Memang tidak salah menjaring iklan, karena media massa juga sebagai lembaga ekonomi yang boleh mencari uang untuk kepentingan operasionalnya. Tetapi tentu jangan melupakan fungsi idealnya sebagai media massa.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Kalau saja trend content siaran tidak ditingkatkan kualitasnya seiring dengan gencarnya program ASO dikumandangkan, tentu akan mengawatirkan dampak negatifnya bagi masyarakat.

Bagaimana tidak berbahaya, gambar yang bersih, suara yang jernih serta teknologi yang canggih dengan isi yang tidak berkualitas tentu akan memberi dampak lebih buruk dari yang sekarang.

Untuk itu, kita berharap, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di pusat maupun di daerah lebih aktif lagi untuk mengawasi program siaran yang tidak bermutu. KPI punya kewenangan untuk itu semua.(*/02)

Back to top button