Pejuang Muda Karangasem Gugur Sehari Sebelum HUT Kemerdekaan

KARANGASEM, MEDIA 9.ID – Sehari sebelum peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI kedua, Kapten (Anumerta) Anak Agung Made Karang Candra Buana gugur dalam pertempuran melawan pasukan NICA di Desa Poh, Budakeling, Karangasem.
Pejuang muda asal Puri Kaleran itu gugur ketika bersama pasukannya tengah mempersiapkan peringatan kemerdekaan di Desa Poh. Serangan mendadak pasukan NICA mengakhiri perjuangannya saat usianya baru sekitar 20 tahun.
Kisah perjuangan A.A. Made Karang Candra Buana kembali dikenalkan kepada masyarakat melalui Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI di Taman Budaya Candra Bhuana. Puri Kaleran menampilkan dua foto sang pejuang sebagai bagian dari upaya mengenalkan sejarah perjuangan Karangasem kepada generasi muda.
Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, A.A. Gede Suryawisesa, mengatakan kisah tersebut penting diangkat untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah.
“Sejarah perjuangan ini harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Kami ingin mereka mengetahui bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak datang begitu saja, tetapi melalui perjuangan dan pengorbanan para pejuang,” ujar Suryawisesa, Senin (17/8/2026).
Menurut Suryawisesa, A.A. Made Karang Candra Buana lahir pada 1927 dari pasangan Anak Agung Wayan Karang dan Mekele Wanasari asal Purwa Ayu, Kemuda, Karangasem. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Semangat perjuangan telah dikenalkan kepada para putra Puri Kaleran sejak kecil melalui kisah perjuangan leluhur melawan penjajahan Belanda, termasuk Perang Jagaraga bersama Patih Jelantik.
Setelah Indonesia merdeka, hampir seluruh putra Puri Kaleran disebut ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Karangasem. A.A. Made Karang Candra Buana turut terlibat dalam sejumlah perlawanan terhadap pasukan NICA, antara lain di Padang Bai, Desa Duda, Bukit Ababi, Desa Suter, hingga Pertempuran Tanah Aron pada 7 Juli 1946.
Dalam Pertempuran Tanah Aron, pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai berhasil mengalahkan pasukan NICA.
Dukungan perjuangan juga diberikan paman A.A. Made Karang Candra Buana, Anak Agung Gde Rai, yang saat itu menjabat Punggawa Abang. Ia meninggalkan jabatannya dan memanfaatkan lahan pertanian di lereng Gunung Agung, kawasan Purasana hingga Tanah Aron, sebagai salah satu markas dan tempat penyediaan logistik bagi pasukan pejuang.
Kawasan tersebut juga menjadi bagian dari jalur long march pasukan Ciung Wanara menuju Karangasem. Perjuangan A.A. Made Karang Candra Buana berakhir pada 16 Agustus 1947. Bersama sejumlah pejuang, di antaranya Jaya Tirta, I Ketut Alit, I Wayan Sinta dan Kandi, ia gugur dalam serangan NICA di Desa Poh. Markas pertahanan pejuang turut dibakar dalam serangan tersebut.
Atas perjuangannya, berdasarkan catatan Kantor Administrasi Veteran Cadangan IX/25 Karangasem dan Surat Pernyataan Yayasan Kebaktian Proklamasi Daerah Karangasem, A.A. Made Karang Candra Buana kemudian dianugerahi pangkat Kapten secara anumerta.
Namanya juga diabadikan di Tugu Taman Pahlawan Margarana. Tak hanya itu, berdasarkan SK Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 tertanggal 31 Maret 2026, Taman Budaya Kabupaten Karangasem di Amlapura ditetapkan menggunakan nama Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candra Buana.
Menurut Suryawisesa, penamaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pergantian nama, tetapi menjadi pengingat bagi generasi muda mengenai sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Nama Kapten A.A. Made Karang Candra Buana harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Karangasem. Kemerdekaan tidak datang begitu saja, tetapi diperjuangkan dengan keberanian, pengorbanan bahkan dengan nyawa,” tegasnya. (*)



















