
SEMARANG, MEDIA9. ID – Setelah 28 tahun menetap dan berkarya di Bali, sejak 1998, perupa Aricadia kembali ke kota kelahirannya, Semarang, melalui pameran tunggal “PAREIDOLIA: KemBALInya wong SEMARANG”. Pameran ini digelar di Tan Artspace Semarang dan dibuka oleh Tan Markaban pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Dalam pameran ini Aricadia menghadirkan 28 karya drawing dan 5 patung. Karya-karya tersebut tidak menawarkan satu tafsir yang tunggal.
Penonton justru diajak menemukan, mengenali, dan vmenafsirkan bentuk berdasarkan persepsi masing-masing–sebuah pengalaman visual yang menjadi inti dari gagasan pareidolia, yakni kecenderungan manusia menemukan bentuk atau makna tertentu dari sesuatu yang sesungguhnya belum memiliki bentuk yang pasti.
Kembalinya Aricadia ke Semarang bukan sekadar peristiwa berpameran. Pameran ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang relasinya dengan kota kelahirannya.
Setelah menetap di Bali sejak 1998, Aricadia pertama kali kembali dan berpameran di Semarang setelah tragedi bom Bali. Musibah tersebut membuatnya pulang ke Semarang dan menetap selama sekitar dua tahun sambil terus berkarya, yang kemudian diwujudkan melalui pameran tunggal “EvA oh eVa” pada 2004.
Pameran tersebut mencatat sebuah peristiwa penting dalam sejarah seni rupa Semarang. Untuk pertama kalinya, seorang jurnalis senior Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo, mencoba menjalankan peran sebagai kurator dalam sebuah pameran tunggal. “EvA oh eVa” menampilkan eksplorasi tubuh perempuan telanjang sebagai bentuk protes dan respons personal Aricadia terhadap tragedi bom Bali yang dialaminya.
Pada tahun yang sama, Aricadia juga terlibat dalam pameran bersama “Kaki Langit Baru”, yang mempertemukan 14 perupa hasil workshop bersama almarhum kurator Mamannoor. Pameran ini lahir dari kegelisahan para perupa Semarang terhadap stigma “Mangga–Pisang–Jambu” yang dianggap terlalu kuat melekat pada perkembangan seni rupa kota tersebut. Pameran itu kemudian dikuratori oleh Tubagus P. Svarajati.
Pada 2016, Aricadia kembali berpameran bersama di Kota Lama Semarang dalam rangkaian Biennale Jawa Tengah. Dan kini, melalui “PAREIDOLIA”, ia kembali hadir dengan karya-karya yang memperlihatkan perjalanan eksplorasi artistiknya yang terus bergerak.
Bagi Aricadia, seorang seniman tidak harus menetap pada satu gaya atau objek demi membangun pengenalan publik. Sepanjang perjalanan keseniannya, ia justru memilih terus berganti periode, genre, teknik, dan pendekatan sebagai cara memperkaya pengalaman batin dan kemungkinan artistiknya. Proses tersebut sebagian besar dijalani secara otodidak.
Ia menyadari bahwa untuk dikenal secara instan, seorang perupa dapat memilih strategi sensational branding: melukis tokek terus-menerus, anjing terus-menerus, bunga matahari terus-menerus, atau apa pun yang kemudian menjadi identitas yang diulang. Namun Aricadia memilih jalan berbeda.
Baginya, seniman adalah seperti batu yang terus menggelinding—berisiko tidak pernah ditumbuhi lumut, tetapi selalu bergerak mencari arah. Ia memilih mengikuti suara hati, seperti air yang mengalir ke mana pun kontur membawanya.
Dari perjalanan itulah muncul keyakinannya bahwa sudah saatnya seorang seniman tidak sekadar mencari gaya, tetapi mencari “isme” pribadinya sendiri.
“PAREIDOLIA: KemBALInya wong SEMARANG” dengan demikian bukan hanya tentang kepulangan seorang perupa ke kota asalnya. Ia adalah penanda perjalanan panjang seorang seniman yang memilih untuk terus bergerak, bereksplorasi, dan mempertanyakan kembali apa arti kebebasan dalam berkesenian.
Bagi Aricadia, kemerdekaan dalam seni adalah keberanian untuk menjadi diri sendiri—meskipun belum tentu dipahami, belum tentu disukai, dan belum tentu langsung diakui.
Melalui 28 drawing dan 5 patung yang dipamerkan, Aricadia kembali menyapa Semarang bukan dengan nostalgia, melainkan dengan pertanyaan baru: sejauh mana seorang seniman berani membebaskan dirinya dari keharusan untuk selalu dikenali?
PAREIDOLIA: KemBALInya wong SEMARANG menjadi jawabannya—sebuah kepulangan yang sekaligus merupakan perjalanan untuk terus menemukan diri. (*)



















