Santrayana Bawa “Ngelawang” dalam Pameran “The Power of Colours” di Jakarta

JAKARTA, MEDIA9.ID – Warna bukan sekadar warna bagi I Wayan Santrayana. Di balik sapuan warna dalam karya seninya, ada ingatan tentang tradisi, kehidupan masyarakat, dan kekayaan budaya Bali yang tumbuh bersamanya sejak kecil.
Ingatan itu pula yang dibawanya ke Balai Budaya Jakarta melalui karya berjudul “Ngelawang”. Karya tersebut ditampilkan dalam The Power of Colours Art Exhibition yang berlangsung 25-31 Agustus 2026.
Bagi Santrayana, Ngelawang bukan sekadar tradisi yang dikenal masyarakat Bali. Tradisi pementasan Barong yang berkeliling dari rumah ke rumah tersebut memiliki makna yang lebih dalam sebagai bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
“Ngelawang memiliki makna sebagai sarana tolak bala dan upaya mengembalikan perputaran energi alam menuju keseimbangan,” ujar Santrayana, Senin (31/8/2026).
Dari tradisi itulah Santrayana menerjemahkan pengalaman budaya Bali ke dalam bahasa seni rupa. Ia tidak sekadar memindahkan bentuk tradisi ke dalam karya, tetapi menjadikannya sebagai ruang untuk berbicara mengenai keseimbangan, kehidupan, dan keberagaman.
Tema The Power of Colours yang diusung pameran tersebut pun menemukan maknanya sendiri bagi Santrayana. Warna tidak hanya hadir sebagai unsur visual, tetapi dapat menjadi gambaran tentang beragamnya budaya dan tradisi yang hidup di Indonesia.
Keberagaman itu, menurut dia, merupakan kekuatan yang semestinya dirawat. “Begitu beraneka ragam warna budaya dan tradisi harus disadari sebagai sebuah kekuatan yang harus dirawat dan dijaga dari rongrongan yang akan memecah belah keutuhan negara kita,” katanya.
Di Jakarta, karya “Ngelawang” Santrayana hadir bersama karya enam seniman Bali lainnya. Mereka adalah I Gusti Nengah Nurata, I Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, I Made Sutarjaya, I Ketut Suwidiarta, dan I Wayan Gede Budayana.
Pertemuan tujuh seniman Bali itu memperlihatkan warna yang berbeda-beda dalam perkembangan seni rupa Bali. Masing-masing datang dengan pengalaman dan bahasa visual sendiri, namun dipertemukan melalui satu tema yang menjadikan warna sebagai kekuatan.
Bagi Santrayana, membawa tradisi Bali ke ruang pamer bukanlah sesuatu yang baru. Pengalaman, lingkungan budaya, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya telah lama menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya.
Lahir di Cau Belayu, Tabanan, pada 1965, Santrayana menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar sebelum melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta.
Sejak 1989, ia aktif mengikuti berbagai pameran seni rupa, baik tunggal maupun bersama. Sejumlah pameran nasional yang pernah diikutinya antara lain Pameran Seni Rupa Empat Kota di Bandung pada 1992, pameran bersama di Museum Gunarsa pada 1992, serta pameran bersama di Museum Ratna Warta pada 1997.
Perjalanan berkesenian Santrayana kemudian melampaui batas Indonesia. Ia mengikuti sejumlah pameran bersama di Australia, Jepang, Swiss, hingga Brussel, Belgia.
Di tengah perjalanan panjang sebagai perupa, Santrayana juga pernah mengabdikan diri di dunia pendidikan sebagai guru seni rupa di SMSR Denpasar, yang kini menjadi SMKN 1 Sukawati.
Kini, melalui “Ngelawang”, salah satu tradisi yang lekat dengan kehidupan masyarakat Bali kembali menemukan ruang untuk berbicara. Bukan hanya tentang Barong dan tradisi, tetapi juga tentang keseimbangan dan keberagaman yang menjadi bagian dari warna Indonesia. (*)



















