DenpasarKesehatan

Pemprov Bali Bisa Kolaborasi Tangani Penyebaran DBD Melalui Program DBDKlim

DENPASAR,baliotonomi.com (30/4/2024) – Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra menyambut baik terobosan BMKG yang telah menciptakan DBDKlim untuk menanggulangi dampak Demam Berdarah Dengue (DBD) secara cepat dan efektif.

Hal itu disampaikan Dewa Made Indra saat memberikan sambutan sekaligus membuka seminar nasional Iklim dan Kesehatan bertajuk “Pemanfaatan Informasi Iklim BMKG untuk Antisipasi Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue” serta peluncuran produk layanan DBDKlim Provinsi Bali di ruang theater Dr. A.A. Made Djelantik, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Selasa (30/4/2024).

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemprov Bali dengan BMKG agar dapat merespon secara cepat dampak DBD atau daerah di Bali yang akan memiliki kasus DBD tinggi.

“Jadi, bukan membuat angka DBD di Bali menurun, namun melalui data dan variabel yang dibuat oleh BMKG melalui DBDklim, Dinas Kesehatan bisa membuat skema dan langkah penanggulangan yang tepat,” jelasnya.

Ia juga mengatakan, saat ini kasus DBD di Bali masih tergolong tinggi. Ada tiga daerah dengan kasus yang cukup tinggi bahkan menyebabkan angka kematian, yaitu Denpasar, Gianyar dan Badung. Berbagai langkah tentu sudah dilakukan Pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut.

BACA JUGA:  Wagub Bali Bacakan Pendapat Akhir Gubernur, Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 Disetujui Bersama

“Salah satunya adalah dengan menggunakan nyamuk Wolbachia. Namun, kebijakan ini masih menjadi pro dan kontra di masyarakat, sehingga melalui kesempatan ini saya juga berharap para pakar bisa memberikan edukasi terkait hal tersebut dan masyarakat bisa menerima program nyamuk Wolbachia tersebut,” jelasnya seraya mengatakan bahwa Pemprov juga terus berupaya melakukan pendekatan dengan masyarakat mengenai pelepasan nyamuk Wolbachia.

Tak lupa, ia pun meminta Dinas Kesehatan untuk terus berkoordinasi dengan BMKG dalam upaya penanggulangan penyebaran DBD di Bali. Data-data yang disajikan oleh BMKG melalui DBDklim diharapkan bisa ditindaklanjuti dengan baik dan bisa menjadi pedoman untuk penanggulangan DBD di Bali.

Sementara, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, saat menjadi Keynote Speaker menjelaskan,  DBDklim adalah inisiatif penyajian informasi yang menjembatani ilmu iklim dan Kesehatan masyarakat untuk menanggulangi DBD.

BACA JUGA:  Dukung Sensus Ekonomi, Koster Wajibkan Data sebagai Landasan Menyusun Perencanaan Pembangunan Bali ke Depan

“Dengan memanfaatkan prediksi iklim, informasi ini bertujuan untuk mengurangi kejadian DBD, mencegah wabah, melindungi masyarakat, dan mendorong praktik Kesehatan dan berkelanjutan,” ujarnya.

DBDklim yang merupakan Kerjasama BMKG dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta serta didukung oleh ITB sudah diterapkan di di Provinsi DKI Jakarta selama lima tahun terakhir dan sudah dipandang cukup berhasil, sehingga kemudian dilanjutkan di Bali.

Ia menyebutkan jika peringatan dini DBD Berbasis Iklim (DBDklim) Provinsi Bali bisa di update setiap bulan dan didiseminasikan melalui website https://staklim-bali.bmkg.go.id, dengan keluaraan informasi berupa prediksi kecocokan kelembaban dan angka insiden DBD. “Sehingga dari prediksi tersebut dapat diambil langkah-langkah tindak lanjut untuk pencegahan dan penanganan DBD,” tutupnya.

Keberhasilan DBDklim di Jakarta juga disampaikan oleh dr. Dwi Oktavia TLH, M.Epid, dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Ia mengatakan bahwa DBDklim dapat dimanfaatkan secara rutin oleh semua instansi.

BACA JUGA:  Antisipasi Demam Berdarah, Desa Banjarasem Lakukan Fogging

Peringatan dini kasus DBD menurutnya juga bisa mendorong pergerakan masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian DBD. “Beberapa penyakit potensial KLB sangat dipengaruhi oleh musim, antara lain penyakit saluran nafas, saluran cerna dan penyakit bersumber vektor, sehingga dengan DBDklim ini bisa langsung ditentukan langkah pencegahan,” jelasnya.

Acara pada pagi itu juga diisi dengan seminar yang menghadirkan narasumber Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Priyanto Rahmatullah, SE, MA, Epidemiolog Ahli Madya Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes RI dr. Asik Surya, MPPM, Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan – BMKG Marjuki, M.Si Plt., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes, akademisi Fakultas Kedokteran UNUD Dr. Sang Ged Purnama, SKM, M.Sc, dan akademisi Fakultas Matematika dan IPA – ITB Prof. Dr. Nuning Nuraini.(*/04).

Back to top button