Opini

NAPAK TILAS API SIWANATARAJA

Oleh: Kadek Suartaya

Pesta Kesenian Bali (PKB), kini (2025) memasuki usia penyelenggaraan yang ke-47 tahun. Dalam perhelatan ini terdapat satu simbol yang senantiasa terpampang megah pada logo resmi, di puncak candi panggung Ardha Candra, Taman Budaya Bali, dan spanduk acara, namun kerap luput dari telaah mendalam maupun perwujudan artistik di arena utama kesenian Bali itu sendiri.

Ia adalah figur Siwanataraja, Dewa Siwa sebagai penari agung semesta, kosmik, spiritual, dan filosofis. Sebuah ironi, karena simbol yang seharusnya menjadi jiwa penyelenggaraan PKB justru hanya menjadi ornamen visual yang statis, bukan sumber inspirasi dinamis bagi penciptaan kesenian Bali masa kini.

Figur Siwanataraja dalam tradisi Siwaisme, yang begitu kuat berakar dalam sejarah spiritualitas Bali, sebetulnya menyimpan filosofi yang sangat dalam dan menyeluruh bagi setiap bentuk kreativitas seni dari tari, karawitan, sastra hingga rupa.

Ia menari bukan untuk sekadar memukau, tetapi untuk melangsungkan siklus abadi penciptaan, pemeliharaan, kehancuran, pengaburan, dan anugerah lima aspek dalam ajaran Pancakrtya. Di sinilah titik awal kontemplasi bahwa seni bukan sekadar ekspresi, melainkan manifestasi dari ritme kosmik yang digambarkan lewat tubuh Dewa Siwa yang menari di dalam lingkaran api.

Anehnya, jarang sekali kita melihat garapan seni dalam PKB, baik dramatari, garapan karawitan, pagelaran puisi, maupun karya rupa yang secara eksplisit mengangkat Siwanataraja sebagai spirit penciptaan. Padahal, dalam semangat PKB yang idealnya menjadi ruang eksplorasi dan spiritualisasi seni, simbol Siwa sebagai penari utama semesta layak ditempatkan sebagai sumber kreativitas utama.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Lebih menyedihkan, panitia PKB pun cenderung membiarkan hal ini berjalan rutin tanpa dorongan kontekstualisasi filosofis yang lebih mendalam terhadap simbol utamanya itu. Sebab, Siwanataraja bukan sekadar lambang “pelebur” atau “penghancur”, sebagaimana ditafsirkan secara sempit oleh banyak pemula, tetapi justru perwujudan harmoni tertinggi dari estetika Hindu: Satyam, Siwam, Sundaram kebenaran, kesucian, dan keindahan. Gerakan tari-Nya adalah wujud konkret dari prinsip-prinsip tersebut. Setiap kaki yang menapak dan tangan yang memutar semesta menjadi representasi dari penciptaan dan pembebasan.

Simbol tubuh-Nya yang meliuk dalam prabha (lingkaran api), tangan-Nya yang membawa kapak dan kendang kecil, kaki yang menapak iblis kegelapan (asura Muyalaka), dan satu kaki lain yang terangkat menunjukkan anugraha merupakan basis visual dan semantik yang sangat kaya untuk dikembangkan menjadi estetika tari Bali.

Gerak “dedengkleng” dalam tari Bali pun, misalnya, disebutkan berasal dari inspirasi gerak kaki Siwanataraja. Ini menunjukkan betapa besar peran Siwanataraja sebagai inspirasi, namun sayangnya masih tertutup debu rutinitas dan lupa diartikulasikan oleh para koreografer kontemporer Bali dalam hajatan kebudayaan terbesar kita. Padahal dalam lontar Bhuwana Kosa disuratkan: “Sakweh ning jagat kabeh, mijil sakeng Bhatara Siwa, ika lina ring Bhatara Siwa ya”  Seluruh alam semesta ini muncul dari Dewa Siwa, dan kembali lebur ke dalam-Nya juga.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Lebih jauh, dalam teks Jawa Kuna dan Weda, tarian Siwa bukanlah sekadar keindahan tubuh, melainkan disiplin spiritual yang menuntun pada samarasya, puncak kesatuan estetika dan spiritualitas, kebahagiaan tertinggi dalam seni. Dalam kerangka ini, penciptaan seni bukan sekadar untuk dipentaskan, tetapi untuk menyatu dengan Tuhan.

Namun pertanyaannya kini: di mana posisi Siwanataraja dalam narasi kreatif seniman Bali kontemporer? Apakah ia masih dihargai sebagai sumber getaran estetika, atau sekadar menjadi logo usang yang dilupakan maknanya? Siwanataraja bukan sekadar penggambaran artistik, tetapi adalah manifestasi dari prinsip estetika tertinggi dalam ajaran Hindu.

Maka menjadi hal yang ironis apabila di tengah PKB yang menyuarakan semangat “kreativitas budaya” makna filosofis ini tidak dijadikan dasar kuratorial, tema artistik, ataupun inspirasi penciptaan yang konkret. Siwanataraja seolah hanya berdiri, membisu di sudut-sudut poster. “Siwanataraja” hanya tampak sekelebat pada Adi Merdangga ISI Bali saat pembukaan PKB. Maskot tari dengan tema Siwanataraja yang pernah dibanggakan, menguap, entah kemana.

Kritik perlu dilayangkan kepada penyelenggara PKB yang nyaris abai terhadap pemaknaan simboliknya sendiri. Jika memang Siwanataraja adalah lambang resmi PKB, maka mengapa tidak disediakan satu segmen khusus semacam “Garapan Siwanataraja” untuk mendorong seniman menggali langsung inspirasi dari tarian kosmik ini? Mengapa tidak ada sayembara khusus penciptaan tari, karawitan, lukisan, hingga sastra yang secara eksplisit menjadikan pancakrtya sebagai tema?

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Ketika seniman lebih sibuk menafsir Bali sebagai komoditas pertunjukan, Siwanataraja justru kehilangan panggungnya di rumah sendiri. Seniman besar India, Ananda Coomaraswamy pernah menyebut dalam esainya “The Dance of Shiva”, bahwa tarian Siwa adalah a symbol of eternal movement in creation, of time and timelessness, of spirit and form.

Filosofi ini mestinya menyentuh para seniman Bali hari ini agar tidak terjebak pada estetika visual semata, tetapi kembali merajut makna terdalam seni sebagai jalan menuju Tuhan. Bali tak kekurangan seniman mumpuni. Yang kita kekurangan adalah spirit penciptaan yang berakar, yang menyelam ke dalam tubuh simbol yang kita usung selama puluhan tahun.

Sudah waktunya seniman Bali masa kini kembali menengadah pada Siwanataraja. Biarkan api dari lingkaran prabha-Nya menyulut keberanian para koreografer, komposer, perupa, dan sastrawan untuk menciptakan karya-karya besar yang bukan sekadar indah, tetapi juga suci dan benar. Pesta Kesenian Bali tahun 2025 semestinya tidak hanya menjadi perayaan 47 tahun pentas tahunan, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan Siwanataraja sebagai sumber daya cipta, cipta yang menyatukan tubuh, semesta, dan Tuhan. Atas nama seni sebagai jalan moksa, mari kita renungkan kembali sabda kuno: “Natya Brahma iti kathayanti” “Seni adalah perwujudan Brahman itu sendiri.”

Penulis pemerhati seni budaya

Back to top button