Nasional

Jangan Lupakan Kualitas “Content“ Siaran, Ketika Sibuk Mengurus “Analog Switch Off ”

BALIOTONOM.id (18/6/2022)| Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) serta para pengelola Televisi disibukkan dengan program migrasi siaran berbasis analog ke siaran berbasis digital yang populer dengan “Analog Switch Off“ (ASO).

ASO yang direncanakan tiga tahap, tahap pertama telah dimulai 30 April 2022 untuk tiga wilayah meliputi Riau, Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat. Tahap kedua dijadwalkan 25 Agustus 2022 dan siaran analog benar-benar dimatikan paling lambat 2 November 2022.

BACA JUGA:  Ketua PWNU Jawa Barat Dukung Komjen Karyoto Jadi Kapolri

Dimintai tanggapannya terakait program ASO yang kini marak menjadi perbincangan publik, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora ( FISUM ) Undiknas Denpasar Dr. Drs. Nyoman Subanda, M.Si, mengemukakan, digitalisasi memang tidak bisa dihindari, tetapi jangan sampai melupakan kualitas “content“ siaran.

Di mata Subanda, isi siaran Televisi saat ini masih memprihatinkan dan perlu ditingkatkan kualitasnya agar benar-benar bisa memaksimalkan fungsinya sebagai penyampai informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.

BACA JUGA:  FWK Sesalkan Presiden Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng

“Terutama unsur pendidikannya yang masih kacau,” kata Subanda, sambil mengilustrasikan, ketika gambarnya bersih, suaranya jernih dan teknologinya canggih, tetapi isi siarannya tidak bermutu, dampaknya tidak bagus.

Siaran Televisi analog telah mengudara selama hampir 60 tahun di Indonesia ditandai dengan dimulainya siaran perdana TVRI untuk mensukseskan ASIAN Games di Jakarta Agustus 1966.

BACA JUGA:  AMKI di Tahun Pertama: Menantang Arus Besar Perubahan Industri Media

Untuk bisa menikmati siaran digital, kalau televisinya belum digital diperlukan tambahan alat yang disebut “ Set Top Box “. (*/02)

Back to top button