Agama & AdatGianyarSeni & Budaya

Sakral dan Magis, Prosesi “Napak Pertiwi” Ida Sesuhunan Desa Adat Tegallantang Ubud

UBUD, MEDIA9.ID – Sebuah momentum sakral yang sarat akan nilai spiritual dan kebersamaan adat berlangsung di jantung pariwisata budaya Bali: Ubud, Gianyar.

Kamis (4/6/2026), memasuki pukul 20.00 WITA, suasana magis mulai membumbung tinggi di seputaran Pura Dalem Desa Adat Tegallantang, Ubud.

Suasana terbangun diawali dengan alunan suara Tabuh Penegak yang dimainkan oleh penabuh utama dari Sadha Budaya Ubud, disusul Tarian Rejang Pemendak dari jaba tengah menuju kalangan.

Suasana magis makin terasa ketika prosesi Ida Sesuhunan Tedun Murwadaksina di kalangan dengan uperengga jangkep, dan Ida Sesuhunan masolah. Ida Ratu Gede (berupa Barong Macan) masolah sebanyak dua kali di kalangan, sementara Ratu Lingsir dan Ratu Sakti nodya.

Dipentaskan pula Tarian Telek, Jauk, dan Penamprat. Ida Ratu Sakti kemudian masolah di kalangan. Ketaksuan ini kian memuncak dengan ritual ngunying (ngurek) oleh para pengayah dan pemuda dari ST Lingga Arsa Tegallantang. Dilanjutkan Tari Sisya Jegeg, Condong, Galuh, hingga keluarnya Matah.

BACA JUGA:  Lovina Festival 2026 Dibuka, Bupati Buleleng Tegaskan Kolaborasi dan Inklusivitas Sebagai Kunci Penguatan Pariwisata Bali Utara

Tepat pada tengah malam (pukul 24.00 WITA), atmosfer di jaba Pura Dalem Tegallantang kian khusyuk saat ritual watang-watangan. Prosesi yang dipimpin oleh Juru Undang Ngurah Swantara ini diiringi tabuh watangan khusus dari Gong Jang Br. Satria Mas, Ubud.

Di tengah ritual tersebut, penampilan bondres dari pelawak tersohor Bali (Sengap, Panjul, Kapuk) hadir di kalangan untuk memberikan tuntunan filosofis sekaligus hiburan.

Memasuki babak akhir pementasan, tokoh Patih dikisahkan ngerancab ke arah Tingga. Ida Sesuhunan yang telah selesai diodak masolah di kalangan. Sebagai penutup dari seluruh rangkaian ritual niskala ini, Ida Sesuhunan sami lunga (berangkat) menuju Setra (kuburan) Desa Adat Tegallantang untuk menghaturkan ritual Segeh Agung, khusus berupa Kucit Butuan.

Menjelang dini hari, setelah seluruh prosesi pembersihan jagat selesai, Ida Sesuhunan kembali dari setra menuju Pura Dalem dan dihaturkan upacara Segeh Agung di Jaba Tengah sebagai tanda selesainya seluruh rangkaian acara.

BACA JUGA:  Kerambitan Creative Space 2026 Sukses Jadi Ruang Promosi Budaya dan Penggerak Ekonomi Masyarakat

Rangkaian Ngodak
Warga (krama) Desa Atad Tegallantang memang tengah diselimuti rasa bakti yang mendalam seiring dengan berjalannya rangkaian besar upacara suci serangkaian prosesi ngodak Ida Sesuhunan.

Rangkaian upacara sakral ini menjadi tonggak penting dalam menjaga kelestarian warisan leluhur dan kesucian niskala di wilayah tersebut.

Bendesa Adat Tegallantang I Gusti Putu Gde Suradnya menuturkan, ritual Ida Sesuhunan napak pertiwi pada Kamis (4/6/2026) malam merupakan rangkaian puncak dari ngodak Ida Sesuhunan yang kali ini dilaksanakan setelah 11 tahun berlalu.

Adapun Ida Sesuhunan yang diodak dalam prosesi suci ini meliputi Ratu Lingsir (Rangda), Ratu Sakti (Rangda), dan Ratu Gede (Barong Macan).

“Kami mengawali rangkaian prosesi adat ini dengan ritual nebes pada 11 Mei 2026 lalu,” ujarnya saat ditemui, Minggu (5/6/2026).

Proses ngodak tersebut dipercayakan kepada Ida Cokorda Gede Barong dari Banjar Yeh Tengah, Kelusa, Payangan, Gianyar. Setelah ngodak selesai, upacara dilanjutkan ke tahap sakral berikutnya, yakni ritual Pasupati yang dilaksanakan pada 25 Mei 2026.

BACA JUGA:  Tabanan Raih Juara Mesatua Bali dan Taman Penasar di PKB XLVIII

“Kami juga senantiasa meminta petunjuk, tuntunan, serta pendampingan langsung dari para Panglingsir (tokoh tetua) Puri Saren Agung Ubud lan Sesari Sesari Puri Ubud,” ujarnya.

Setelah seluruh prosesi ngodak selesai, krama Desa Adat Tegallantang langsung disatukan dengan upacara wali (piodalan). Momentum suci ini dirangkaikan dengan ritual Calonarang yang mengusung lakon “Bahula Duta” dan Ida Sesuhunan Napak Pertiwi di Pura Dalem Tegallantang pada rahina Wraspati Paing Julungwangi, Kamis (4/6/2026).

Rangkaian upacara dimulai tepat pukul 19.00 WITA dengan ritual Mecaru lan Mrascita Kalangan menggunakan caru Brumbun serta Bya Kaonan di jaba tengah.

Prosesi dilanjutkan dengan nedunin Ida Pelawatan sami di jeroan Pura yang diiringi oleh pecalang, pengayah kasudi, disertai iringan bhakti penuur tedun. (01*)

Back to top button