Operator Pemancar Televisi, Sendiri dan Sepi Dibalik Hingar Bingarnya Acara Televisi

BALIOTONOM.id (21/6/2022)| Program Analog Switch Off ( ASO ) atau migrasi siaran televisi dari sistim analog ke digital di industri tanah air kini tengah berlangsung. Kini baru tahap pertama yang berlangsung sejak 30 April 2022 lalu untuk tiga provinsi masing-masing Riau, Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat. Tahap kedua dijawalkan mulai 25 Agustus 2022 dan ASO total paling lambat 2 November 2022.
Barangkali ada yang tidak terlintas dibenak para pemirsa televisi. Dibalik semarak dan glamournya acara televisi, ada peran individu yang kadang harus melawan sepi dan dinginnya udara mengawal dan memastikan siaran televisi berlangsung dengan baik. Ya, dialah para operator pemancar televisi yang berada ketinggian bukit yang sepi dan dingin.
Salah satu diantaranya adalah Ketut Bagiarta. Ia merupakan teknisi dan operator pemancar TVRI Bali yang bertugas di pemancar Bukit Bakung di Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, sekitar 28 kilometer arah Selatan Kota Denpasar Ibukota Provinsi Bali.
Kini,TVRI Bali masih bersiaran dengan dua sistim analog dan digital, dikarenakan Bali tidak jadi masuk program ASO tahap pertama. “Sebenarnya TVRI Bali sudah siap kalau harus siaran penuh dengan sistim digital. Tapi karena pemerintah mengambil kebijakan menunda ya,kitra masih menggunakan dua sistim,” ujar Bagiarta yang berkarir di TVRI Bali sejak tahun 1990.
Untuk menyukseskan program ASO dengan slogan “Bersih gambarnya, Jernih suaranya dan dan Canggih teknloginya” itu, Ketut Bagiarta telah mengikuti pelatihan untuk mengopersikan pemancar digital Litbang TVRI Pusat. Ia mengaku tidak kesulitan untuk mengoperasikan pemancar digital.
Disinggung suka duka bertugas di tempat yang sepi, pria asal kabupaten Tabanan, Bali ini mengatkan lebih banyak sukanya. “Kalau siaran lancar, tidak ada troubel, merupakan kepuasan tersendiri,” ujarnya sambil menambahkan bertugas secara bergiliran dengan timnya yang berjumlah delapan orang yang harus menjaga, mengawasi dan memastikan siarn berlangsung lancar.
Menurutnya, siaran digital sesuatu yang harus dilakukan seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang tidak bisa dihindari. Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan dengan siaran digital yang memiliki banyak kelebihan dibanding siarn analag. “Kalau toh Televisinya belum digital, bisa dilengkapi dengan Set Top Box (STB ) untuk menerima siaran digital,” ujarnya.
TVRI Bali kini masih siaran dengan analog dan digital melalui pemancar di Bukit Bakung di Kabupaten Badung serta pemancar di Kintamani kabupaten Bangli. Sedangkan pemancar analog di Bukit Sega dan Gunung Kutl kini sudah di “off“ kan. (*/02)



















