Nasional

Refleksi Akhir Tahun: Solidaritas Army Indonesia Bantu Korban Tragedi Kanjuruhan

Oleh :Pramana *)

Bagi penggemar KPOP pasti sudah tidak asing dengan istilah fandom. Secara harfiah, fandom merupakan istilah bahasa Inggris yang artinya ‘kepenggemaran’, atau ‘kumpulan/basis penggemar’. Jadi, penggunaan kata fandom untuk menyebut kelompok penggemar KPOP.

Di Indonesia, ada banyak kelompok fandom selaras dengan banyaknya bermunculan grup KPOP yang merupakan boyband asal Korea Selatan. Salah satu fandom terbesar di Indonesia yaitu penggemar grup BTS yang familiar disebut dengan Army. Army tersebar berbagai daerah di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Berawal dari menggemari grup yang sama dan memiliki solidaritas yang sangat kuat, Army kemudian tidak hanya berfokus pada BTS sebagai idolanya, namun juga beberapa kali bergerak dalam menghimpun bantuan kemanusian.

Contoh nyata, ketika tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang pada Oktober 2022 lalu, tentu masih melekat diingatan bagaimana dunia sepak bola Indonesia berduka. Ratusan korban meninggal serta tidak sedikit pula korban terluka kemudian Army Indonesia bergerak melakukan galang dana untuk membantu korban terdampak.

Tidak main-main, gerakan yang diinisasi oleh Army Indonesia ini berhasil menghimpun lebih dari 400 Juta Rupiah melalui platform digital kitabisa.com. Angka yang fantastis mengingat Army sendiri merupakan kelompok yang antar anggota mungkin tidak selalu mengenal satu sama lain, namun memiliki solidaritas yang luar biasa. Publik tentu penasaran, bagaimana bisa Army Indonesia memiliki solidaritas yang sekuat itu?.

BACA JUGA:  FWK Imbau Presiden Hentikan Pernyataan Lemahkan Semangat Masyarakat

Jika dilihat dari kacamata akademis, dalam komunikasi kelompok dikenal sebuah teori yang disebut analisis interaksi dan pengembangan kelompok. Teori ini melihat bagaimana sebuah kelompok terbangun dan berkembang melalui beberapa fase diantaranya: orientasi, konflik, emergence, dan juga penguatan. Solidaritas Army Indonesia tentu telah melelalui keempat fase tersebut sebelum akhirnya seperti sekarang ini.

Pada fase orientasi, diketahui para anggota Army berkumpul dan terbentuk baik secara langsung maupun virtual melalui berbagai events yang terkait idolanya, yaitu BTS. Setiap penggemar mulai membangun komunikasi dan berinteraksi satu sama lain hingga kemudian yakin dan meneguhkan diri sebagai anggota atau bagian dari Army Indonesia. Setiap orang yang tergabung dalam Army Indonesia tentunya membawa sisi kedaerahan dan identitas personal masing-masing. Hal tersebut yang seringkali menjadi potensi konflik dalam proses komunikasi antar anggota Army.

Sebagai kelompok, Army Indonesia tentu harus merumuskan beberapa hal terkait keberlangsungan Army sendiri, seperti penunjukkan ketua maupun perangkat lainnya yang menunjang berbagai kegiatan bersama termasuk aksi galang dana untuk tragedi Kanjuruhan. Dalam proses ini, konflik berpotensi muncul mengingat Army Indonesia berasal dari berbagai wilayah dengan latar belakang yang berbeda. Suku, budaya, bahasa, unsur kedaerahan lainnya menjadi identitas personal yang akan dibawa oleh setiap anggota Army yang terlibat. Fase konflik ini harus mampu diredam oleh setiap anggota Army  agar tidak menjadi hambatan dalam pengembangan kelompok.

BACA JUGA:  FWK Sesalkan Presiden Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng

Jika dilihat dari buah solidaritas Army dalam menghimpun dana untuk korban terdampak tragedi Kanjuruhan, potensi dan fase konflik dalam pengembangan Army Indonesia dapat diatasi dan dinegosiasikan dengan sangat baik mengingat hasilnya yang luar biasa. Fase ini bisa dipahami sebagai fase emergence dalam pengembangan kelompok.

Fase terakhir yang dilewati yaitu penguatan. Setelah para anggota Army Indonesia berhasil mereduksi konflik melalui beragam interaksi dan negoisiasi. Mengakomodir berbagai ide yang muncul dalam kelompok dan membuat keputusan bersama sesuai dengan kebutuhan bersama sebagai Army Indonesia. Terbukti, solidaritas yang terbentuk oleh para anggota Army Indonesia dalam menginisiasi galang dana dengan hasil yang menakjubkan. Army Indonesia menjadi contoh bagaimana teknologi menyatukan jutaan orang menjadi satu kelompok yang solid menembus batasan ruang.

Sebagai penggemar BTS, Army Indonesia turut membangun kepercayaan citra positif di era KPOP yang responsif terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan, seperti pada tragedi Kanjuruhan.

BACA JUGA:  Ketua PWNU Jawa Barat Dukung Komjen Karyoto Jadi Kapolri

Sebagai bentuk empati dan solidaritas antar keluarga setanah air, satu Bangsa Indonesia, kami ingin mengajak seluruh ARMY di Indonesia dan juga seluruh masyarakat untuk membantu dan mengirim do’a sebanyak-banyaknya bagi para korban.

Bantuan dari ARMY dan #OrangBaik akan kami salurkan untuk santunan bagi keluarga korban terdampak, sebagai modal usaha bagi keluarga yang kehilangan sosok tulang punggung keluarga dan santunan pendidikan bagi anak-anak yang ditinggalkannya. Nantinya dana hasil donasi akan disalurkan langsung oleh tim ARMY Malang“.

Kalimat tersebut tertuang sebagai bagian dari ajakan Army Indonesia dalam upaya galang dana melalui kanal kitabisa.com guna membantu korban terdampak tragedi Kanjuruhan.  Ratusan juta rupiah terkumpul dan disalurkan kepada para korban berkat upaya yang dilakukan Army Indonesia.

Itu menjadi bukti, betapa teknologi informasi mempunyai pengaruh dahsyat lintas batas yang tidak memandang apapun. Tinggal ditangan siapa TI ( baca smart phone dan sejenisnya). Ditangan orang yang bijak jari tangan bisa mewujudkan sesuatu yang positif. Disisi lain dijari orang jahat, bisa mengancan hancurnya tatanan kehidupan yang sudah mapan.

*) Mahasiswa Program Doktor Komunikasi UNS.

Back to top button