OpiniSosok & Tokoh

Duo Buleleng: Pak Mangku dan Pak Koster

Oleh Umar Ibnu Alkhatab
Pengamat Kabijakan Publik

Dalam sejarah politik lokal, ada dua putra terbaik Buleleng yang duduk sebagai Gubernur Bali. Pertama, pak Made Mangku Pastika, jenderal pensiunan polisi kelahiran 1951, menjabat dua periode dari tahun 2008-2018. Dan kedua, pak Wayan Koster, mantan anggota DPR RI kelahiran 1962 yang saat ini sebagai Gubernur petahana dan berencana akan kembali maju pada periode kedua.

Baik pak Mangku maupun pak Koster merupakan gubernur yang memiliki catatan prestasi yang cukup gemilang dan meninggalkan banyak legacy yang penting bagi masyarakat. Sejarah ini tentu sangat penting dicatat karena sejak Singaraja ditetapkan sebagai ibukota Bali pada awal-awal kemerdekaan, baru kali ini dua putra Buleleng menjadi gubernur secara berurutan. Kendati Bali beribukota di Singaraja pada awal perkembangannya, Gubernur Bali pertama justru dijabat oleh putra Jembrana, Anak Agung Bagus Sutedja.

Pak Mangku

Sebelum menjadi Gubernur Bali dua periode, 2008-2018, Pak Mangku dikenal luas sebagai seorang polisi dengan sejumlah jabatan yang penting. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah di tiga provinsi, yakni NTT, Papua, dan Bali. Beliau pernah menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional dan pernah pula diberikan kepercayaan untuk memimpin tim pengungkapan kasus Bom Bali 2002 yang menewaskan ratusan wisatawan asing di Kuta, Bali.

Beliau kemudian nonaktif dalam jabatannya di kepolisian untuk terjun dalam kampanye pencalonan dirinya sebagai Gubernur Bali pada tahun 2008. Pak Mangku mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Bali berpasangan dengan A.A.G.N Puspayoga lewat PDIP dan berhasil menang dengan meraih 55,04 persen suara.

Pada periode kedua, melalui pintu Partai Demokrat, pak Mangku berpasangan dengan Ketut Sudikerta, politisi Golkar, dan berhasil menang dengan total perolehan 1.063.734 suara (50,02%) atau unggul 996 suara atas pesaingnya.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Baik periode pertama maupun periode kedua, pak Mangku mengusung visi “Terwujudnya Bali yang maju, aman, damai, dan sejahtera” yang disingkat Bali Mandara. Visi tersebut kemudian dijabarkan ke dalam tiga misi, yaitu, pertama: mewujudkan Bali yang berbudaya, metaksu, dinamis, maju, dan modern. Kedua, mewujudkan Bali yang aman, damai, tertib, harmonis, serta bebas dari berbagai ancaman. Dan ketiga, mewujudkan Bali yang sejahtera dan sukerta lahir batin.

Selama sepuluh tahun memimpin, pak Mangku berhasil membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan rakyat Bali. Beberapa peninggalan yang kini dinikmati masyarakat Bali, di antaranya adalah SMA Bali Mandara bagi mereka yang tidak mampu, penyuluhan bahasa dan aksara Bali di desa, jaminan kesehatan yang merata, kesejahteraan petani melalui Simantri, dan Tol Bali Mandara yang melintas di atas laut dari Pelabuhan Benoa ke Nusa Dua.

Pak Koster

Saat maju dalam pilgub Bali 2018, pak Koster berpasangan dengan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan menang atas pasangan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Ketut Sudikerta dengan perolehan 1.213.075 suara (57,68 persen).

Visi yang diusung adalah “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sekala-niskala menuju kehidupan krama dan gumi Bali sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam Kebudayaan.

Visi tersebut dimaksudkan untuk menuju Bali Era Baru dengan menata secara fundamental dan komprehensif pembangunan Bali yang mencakup tiga aspek utama, yakni alam, krama dan kebudayaan Bali berdasarkan nilai-nilai Tri Hita Karana yang berakar dari kearifan lokal Sat Kerthi.

Visi tersebut berikhtiar untuk mewujudkan Bali Era Baru yang akan ditandai dengan tatanan kehidupan baru yang holistik yang meliputi tiga dimensi utama, yakni, pertama, bisa menjaga keseimbangan alam, krama dan kebudayaan Bali. Kedua, bisa memenuhi kebutuhan, harapan, dan aspirasi krama Bali dalam berbagai aspek kehidupan. Dan ketiga manajemen risiko yakni memiliki kesiapan yang cukup dalam mengantisipasi munculnya permasalahan dan tantangan baru dalam tataran lokal, nasional dan global yang akan berdampak secara positif maupun negatif terhadap masa yang akan datang.

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Sejauh ini visi tersebut telah dijabarkan dengan sangat baik. Selama empat setengah tahun kepemimpinannya, Pak Koster berhasi melaksanakan program prioritas pembangunan infrastruktur darat, laut dan udara secara terintegrasi dan terkoneksi. Di antaranya adalah pembangunan perlindungan kawasan suci Besakih di Karangasem, pembangunan kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung, pembangunan jalan shortcut Singaraja-Mengwi, pembangunan pelabuhan segitiga Sanur, Sampalan, dan Bias Munjul di Nusa Ceningan, pembangunan Turyupada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di Buleleng, pembangunan bendungan Tamblang di Buleleng, pembangunan bendungan Sidan di wilayah Badung, Bangli dan Gianyar, dan pembangunan tol Jagat Kerthi Bali sepanjang 96 km menghubungkan Gilimanuk-Mengwi. Di samping itu telah menghasilkan puluhan perda dan pergub untuk mendukung implementasi visi tersebut. Paling mutakhir adalah disahkannya UU Provinsi Bali oleh DPR RI.

Pak Mangku dukung Pak Koster

Momen yang menarik dilihat adalah kemesraan pak Koster dengan pak Mangku saat menghadiri upacara pemelaspasan fasilitas bangunan Perlindungan Kawasan Suci Besakih, di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Senin (6/3/2023).

BACA JUGA:  Jalan Panjang Kemandirian Pers Kita

Kemesraan patut dilihat sebagai bentuk dukungan pak Mangku terhadap apa yang dilakukan pak Koster sebagai Gubernur Bali. Dan momen itu semakin penting saat pak Mangku memberikan dukungan politiknya dihadapan Krama Bali yang hadir di Besakih dengan memekikan dua periode untuk pak Koster seraya mengangkat tangannya dengan kode dua jari.

Tentu saja, dukungan dari politisi kawakan semacam pak Mangku sangat dibutuhkan pak Koster setidak-tidaknya untuk menambah greget pak Koster di dalam mengemban tugasnya sebagai Gubernur Bali dan sebagai modal politik menghadapi kontestasi Pilgub Bali 2024 mendatang. Artinya, dengan dukungan dari pak Mangku tersebut, praktis pak Koster semakin percaya diri mampu memenangkan kontestasi Pilgub Bali nanti karena sejauh ini belum ada calon gubernur yang secara gamblang ingin maju menghadapi duet Koster-Ace.

Dukungan dari pak Mangku itu pula sekaligus menutup ruang spekulasi bahwa pak Mangku akan kembali bertarung dalam kontestasi Pilgub Bali 2024 nanti. Sejauh ini belum ada figur yang mumpuni untuk menghadapi duet Koster-Ace pada kontestasi Pilgub Bali 2024 nanti. Kita juga belum mendengar secara persis apakah partai-partai politik yang ada telah menyiapkan calon yang akan dikirim ke gelanggang untuk berkompetisi memperebutkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 2024.

Kelangkaan figur ini akan mendorong partai-partai penantang untuk memilih figur yang sudah berpengalaman dan dianggap mampu bersaing menghadapi duet Koster-Ace. Dan kita tidak tahu siapa figur yang berpengalaman dan mampu bersaing itu, sementara pak Mangku sendiri sudah menyatakan dukungannya kepada Koster-Ace untuk kembali menjadi gubernur dan wakil gubernur Bali.

Tabanan, 14 April 2023.

Back to top button