Demer Soroti Ketimpangan Pembangunan di Bali

KARANGASEM, MEDIA9.ID – Ketua DPD Partai Golkar Bali sekaligus anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer menyoroti ketimpangan pembangunan di Provinsi Bali.
Menurutnya, pemerataan pembangunan di Bali belum berjalan adil dan menyeluruh. Ketimpangan terlihat jelas antara wilayah Bali Selatan dengan kawasan utara seperti Buleleng dan wilayah timur seperti Karangasem.
Ketidakseimbangan pembangunan tersebut berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pertumbuhan ekonomi, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga ketersediaan lapangan kerja.
Di sektor pendidikan, Demer menilai pembangunan perguruan tinggi lebih terkonsentrasi di wilayah selatan, terutama di Badung dan Denpasar. Sementara itu, Karangasem dinilai belum mendapatkan perhatian yang memadai sehingga akses pendidikan tinggi bagi masyarakat di Karangasem masih terbatas.
“Kalau sekarang ini terus terang saya lihat belum adil. Pemerintah sebenarnya bisa membuat kebijakan, misalnya moratorium pembangunan perguruan tinggi D1, D2, D3, dan S1 di daerah yang sudah padat seperti Badung dan Denpasar,” ujar Demer di Karangasem, Minggu (15/3/2026).
Ia menilai kebijakan tersebut dapat mendorong pembangunan perguruan tinggi baru di wilayah timur Bali. Menurutnya, langkah itu juga dapat menekan biaya pendidikan bagi masyarakat di Karangasem. Demer mengaku akan terus memperjuangkan pemerataan pembangunan bagi wilayah Bali timur dan utara.
Selain pendidikan, ia juga menyoroti pembangunan infrastruktur yang dinilai belum merata. Minimnya infrastruktur, menurutnya, menjadi salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah.
Demer menjelaskan, pada masa lalu wilayah Buleleng sempat berkembang karena didukung transportasi laut. Namun, setelah berkembangnya bandara di Bali Selatan, pusat pertumbuhan ekonomi semakin terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Ia juga menyinggung pembangunan akses jalan menuju Karangasem yang belum tuntas. “Pembangunan jalan by pass baru sampai Kusamba dan belum tersambung. Kondisi ini membuat pertumbuhan di wilayah timur menjadi sangat rendah,”jelasnya.
Dampak lain dari ketimpangan pembangunan tersebut adalah terbatasnya peluang kerja di wilayah utara dan timur Bali. Akibatnya, banyak masyarakat dari Buleleng dan Karangasem yang mencari pekerjaan ke Denpasar, Badung, maupun Gianyar.
“Banyak warga Buleleng dan Karangasem bekerja di Denpasar karena peluang kerja di daerah asal masih rendah. Pendidikan juga belum merata karena distribusi fasilitas pendidikan tidak seimbang,” kata Demer.
Ia pun meminta pemerintah memperhatikan pembangunan perguruan tinggi di Karangasem untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus mendorong pertumbuhan lapangan kerja.
“Pendidikan dapat meningkatkan kesejahteraan, meskipun tidak selalu menjamin kesejahteraan,” pungkas politisi asal Buleleng tersebut.(05)



















