Agama & AdatKarangasemSeni & Budaya

Workshop Primbon Usada di Karangasem Kupas Tetebasan Gering

KARANGASEM, MEDIA9.ID – Festival Khazanah Lontar yang dilaksanakan Yayasan Karya Buana Lestari kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan terus berlangsung. Jumat (30/5), panitia menggelar Workshop Lontar Primbon Usada di Museum Pustaka Lontar, Desa Dukuh Penaban, Karangasem.

Narasumber workshop Jero Mangku Nyoman Merta selaku pegiat lontar Bali dan I Ketut Dharma Kresna Wijaya sebagai praktisi Usada Bali. Ada beberapa topik yang dibahas, salah satunya tetebasan gering (hutang karma) yang melekat pada manusia.

Ketut Dharma Kresna Wijaya mengungkapkan, tetebasan gering adalah hutang karma dalam kehidupan manusia yang dibawa sejak lahir. Hutang ini bisa diselesaikan lewat penebusan atau upacara. Ciri – ciri orang kena tetebasan gering, di pertengahan umurnya akan muncul penyakit dan prahara.

BACA JUGA:  BPS dan Pemkab Karangasem Perkuat Komitmen Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

“Ciri-cirinya, biasanya di pertengahan umurnya akan muncul penyakit dan prahara. Seperti di rumah tangga ngomong sedikit jadi ribut, sakit mendadak, pamali, dan lainnya,” kata Kresna Wijaya.

Setiap orang biasanya memiliki tetebasan dan karma yang berbeda – beda. Pelaksanaan upacara dan tempat tetebasan juga beda.

Menurut Dharma Kresna, manusia lahir dan hidup membawa hutang karma. Dalam tetebasan dijelaskan ada 210 kelahiran, saptawara, pancawara, kaliwuku.

“Setiap kelahiran biasanya memiliki tetebasan dan karma berbeda. Lokasi upacara juga beda. Ada yang di Pura Dalam, Pemuhunan, atau di Pempatan,” tambahnya.

BACA JUGA:  Tanah Adat Disertifikatkan, Krama Telun Wayah Minta Petunjuk DPRD Karangasem

Bendesa Adat Dukuh Penaban I Nengah Suarya mengatakan, Workshop Lontar Primbon Usada merupakan rangkaian Festival Khasanah Lontar Bali. Kegiatan ini dilakukan untuk memuliakan aksara, kebudayaan lontar, serta tradisi sastra Bali.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Karya Buana Lestari itu menambahkan, Festival Khazanah Lontar Bali akan dilaksanakan selama 10 bulan. Kegiatannya meliputi workshop dan pementasan budaya di beberapa daerah di Bali. Satu di antaranya di Karangasem dipusatkan di Museum Lontar di Desa Dukuh

BACA JUGA:  Gus Par: APBD Bukan Sekadar Angka, Tapi Amanah Mensejahterakan Rakyat

“Kegiatan dalam festival ini yakni parada budaya. Workshop pembuatan lontar, usada, dan workshop prasi. Kita akan adakan kegiatan kemah nyiyastra, digitalisasi lontar, klinik lontar, festival sastra, fragmen tari wagiswari, serta wayang joblar,” jelas Suarya.

Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat luas. Tujuannya untuk menggugah kesadaran masyarakat agar dapat melanjutkan, melestarikan, menguatkan tradisi yang ada di wilayah agar tidak punah digerus oleh zaman. Kegiatan ini juga akan mengupas keberadaan lontar dari hulu ke hilir, sehingga masyarakat dapat memahami dan menyadari, serta memanfaatkannya. (05)

Back to top button