Tak Kenal Menyerah, Jro Galon Meniti Jalan Panjang Menuju Kesuksesan

KARANGASEM, MEDIA9.ID – Tidak pernah terlintas dalam benak Jro Mangku Gede Silaguna alias Jro Galon bahwa suatu hari dirinya akan memiliki usaha sendiri dan mampu membantu masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
Pria kelahiran 1 Februari 1972 ini tumbuh dalam keluarga sederhana di Desa Adat Yehe Desa Sebudi Kecamatan Selat, Karangasem. Masa kecilnya diwarnai keterbatasan ekonomi yang membuat sekadar membayangkan kehidupan yang lebih baik terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh.
Jejak kemiskinan itu tidak bisa dilepaskan dari kondisi kampung halamannya. Erupsi Gunung Agung tahun 1963 membuat kehidupan masyarakat Desa Adat Yehe sangat berat. Tanah dan lahan pertanian belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan. Lapangan pekerjaan pun terbatas.
Jro Galon masih mengingat betul bagaimana keluarganya bertahan hidup dalam kondisi serba kekurangan. “Zaman dulu tidak pernah berpikir untuk besok dan dua hari. Kita berpikirnya untuk makan hari ini saja sudah bersyukur,” kenang Jro Mangku Gede Silaguna di rumahnya, Kamis (3/9/2026).
Tahun 1978, Jro Galon mulai bersekolah di SD Sebudi. Lantas melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP tahun 1984. Setiap hari, harus berjalan kaki menuju sekolah di Muncan dengan jarak sekitar 5 kilometer. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat pendidikannya harus terhenti. Ia tidak melanjutkan ke SMA dan memilih bekerja demi membantu orang tua.
Kehidupan masa kecil yang keras juga membentuk karakternya. Sepulang sekolah, ia harus membawa sabit mencari rumput untuk pakan sapi milik orang lain yang dipelihara orang tuanya. Seandainya tak mencari rumput, akan di hukum orang tuanya. Didikan tersebut, menurutnya, justru menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
“Karena didikan keras orang tua, setelah besar rasa takut hilang. Usai tamat SMP saya sempat bekerja sebagai buruh pemukul batu di desa. Bagi saya bekerja adalah satu – satunya jalan untuk membantu keluarga,” ujarnya.
Ketika banyak orang di desanya memilih bertahan dengan kondisi yang ada, Jro Galon memberanikan diri keluar dari kampung halaman untuk cari penghidupan. Sekitar 1988, ia memulai jadi kernet hingga akhirnya dipercaya jadi sopir. Tahun 1990 memutuskan bekerja sebagai sopir disekitar pertambangan Gunaksa, Klungkung, membawa truk milik pengusaha Pak Imam.
Empat tahun kemudian, tepatnya 1994, ia menikah. Kehidupan bersama sang istri tetap jauh dari kata berkecukupan. Pekerjaan sebagai sopir dijalani semata-mata agar keluarganya bisa makan. Rumah yang ditempati pun sangat sederhana. Atapnya masih menggunakan daun kelapa dengan tiang dari bambu petung.”Intinya bisa makan. Pakaian nomor sekian,”katanya.
Setelah berhenti bekerja di Gunaksa, Jro Galon kembali menjadi kernet truk dengan rute Jawa, Bali, hingga Lombok. Kehidupan sebagai pekerja ekspedisi terus dijalani sampai anak pertama lahir. Kemudian pada 1997, anak keduanya lahir. Kebahagiaan menyambut kelahiran anak kedua bercampur dengan persoalan ekonomi. Krisis moneter mulai menghantam. Muatan ekspedisi semakin sepi dan penghasilan sulit didapat.
“Dalam kondisi itulah keputusan besar kembali diambil. Saat itu umur anak kedua saya baru 12 hari. Saya memutuskan berkerja ke Kalimantan,” tuturnya.
Keputusan meninggalkan Bali bukan perkara mudah. Seorang ayah harus meninggalkan istri dan dua anaknya, termasuk bayi yang baru berusia 12 hari. Namun, tuntutan ekonomi memaksanya mengambil risiko.”Saya mendapat tawaran dari bos saya bernama Bu Ros untuk kerja di Kalimantan Selatan mengangkut batu bara. Upah yang dijanjikan jauh lebih besar dibandingkan penghasilannya di Bali,”cerita Jro Galon.
Jika mengirim pasir dari Klungkung ke Denpasar hanya memperoleh sekitar 7.500, pekerjaan di Kalimantan dijanjikan sekitar 50 ribu. Harapan untuk memperbaiki kehidupan keluarga akhirnya membawanya merantau ke Banjarmasin pada 1997.
Di tanah rantau, ia kembali menjalani kehidupan keras. Tidak ada kepastian bahwa setiap hari akan mendapatkan pekerjaan. Bahkan perjalanan melewati kawasan pegunungan terkadang hanya dibekali mi instan. Dalam kondisi tertentu, air bersih pun sulit diperoleh.”Kadang kalau mau rebus mi harus pakai air radiator agar mi bisa matang,”kenangnya.
Di Kalimantan pula ia sempat bertemu dengan sosok yang kelak dikenal luas sebagai pengusaha sukses, Haji Isam. Saat itu, menurut Jro Galon, Haji Isam masih bekerja sebagai sopir truk. Pertemuan mereka hanya berlangsung sekitar enam bulan dan sebatas hubungan pertemanan sesama pekerja. Namun, ada satu hal yang membekas dalam ingatannya: kegigihan.
Menurut Jro Galon, Haji Isam ketika itu dikenal sebagai pekerja yang gigih hingga mendapat kepercayaan dari bosnya yang merupakan pengusaha keturunan Tionghoa. Jro Galon melihat kisah tersebut sebagai pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui masa depan seseorang.
“Kita tidak tahu akan menjadi apa. Setiap orang memiliki masa, dan setiap masa ada orangnya. Kegigihan Pak Haji Isam perlu ditiru. Intinya memang harus berusaha,”katanya. Setelah sekitar dua tahun di Kalimantan, ia akhirnya mengambil keputusan yang sama. Kembali ke Bali.
Pulang, Bangkit, dan Memulai Usaha
Tahun 1999, Jro Galon kembali ke Bali. Ia kembali menjadi sopir truk yang mengangkut pasir dari Klungkung ke Denpasar. Sempat merantau ke Jakarta. Hingga akhirnya, Tahun 2002, perjalanan hidupnya kembali menemukan titik perubahan. Ia bertemu seorang pengusaha bernama Siong yang memiliki usaha di Klungkung dan kemudian membuka cabang di Yehe, Karangasem.
Karena dinilai memiliki keberanian dan dapat dipercaya, Jro Galon diberi tanggung jawab untuk menjaga usaha tersebut. Bukan hanya pekerjaan yang diberikan. Sang bos juga mengajarinya bagaimana mengelola pekerjaan dan menjalankan usaha. Dan suatu ketika, Jro Galon diberi pilihan atasannya apakah gajih yang diterima akan digunakan beli tanah atau truk. Saat itu ia memilih membeli truk.
Keputusan itu kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan bisnisnya. Dari sinilah Jro Galon mulai serius bergelut di dunia pertambangan. Dukungan dan kepercayaan dari bosnya menjadi modal awal. Ditambah kepercayaan masyarakat sekitar. Perlahan ia mulai membangun usahanya sendiri.
Pada 2008, ia akhirnya memiliki usaha pertambangan sendiri. Usaha tersebut menjadi salah satu yang pertama dirintis oleh masyarakat lokal di Sebudi. Ada satu prinsip yang terus ia pegang sejak menjadi karyawan, kejujuran, keberanian dan kegigihan.”Ini karena faktor keberanian dan kegigihan kita,”tambahnya.
Usaha yang dibangun tidak hanya dipandang sebagai kendaraan untuk mengubah kehidupan keluarganya. Ia melihat aktivitas pertambangan juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Ketika galian di Klungkung mulai meredup, kegiatan pertambangan di Karangasem berkembang. Kehadiran usaha tersebut memberikan sumber penghasilan bagi warga sekitar.
Perekonomian disini kembalikan meningkat. Ribuan warga diuntungkan dari keberadaan pertambangan. Ada yang bekerja sebagai buruh tukang kosek, menggali tanah sendiri, menjadi operator, hingga pekerjaan lain yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan.
Perjalanan hidupnya sendiri menjadi bukti bahwa kemiskinan bukan sesuatu yang harus diterima sebagai akhir dari cerita. Dari seorang anak desa yang berjalan kaki lima kilometer menuju sekolah, mencari rumput sepulang sekolah, menjadi buruh pemukul batu, kernet, sopir ekspedisi, merantau ke Kalimantan, hingga akhirnya membangun usaha sendiri, semuanya dilalui dengan satu prinsip: tidak menyerah.
“Kata menyerah pantangan bagi saya. Prinsip saya, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Saya terus berusaha dan berusaha,” tegasnya.
Diakhir cerita, Jro Galon menyampaikan beberapa pesan kepada generasi muda di Kab. Karangasem untuk berusaha, dan jangan hanya berdiam diri.“Pesan saya kepada anak muda di Bali, jangan pernah bangga dengan apa yang dimiliki. Jangan berdiam diri dan jangan iri. Ikuti jejak orang sukses. Tuhan memberi rezeki. Tak ada usaha yang mengkhianati hasil,” pesannya. (*)



















