Lontar Misterius dari Lombok Tersimpan di Museum Lontar Dukuh Penaban

KARANGASEM, MEDIA9.ID – Sebuah lontar yang sebelumnya nyaris tak terungkap isinya kini tersimpan di Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban Kecamatan Karangasem.
Lontar tersebut menjadi koleksi menarik karena asal usul serta isi naskahnya sempat menjadi misteri. Bahkan, sejumlah orang yang coba membacanya mengalami kesulitan.
Lontar itu dibawa seorang tamu asal Belgia yang sebelumnya memperoleh naskah tersebut dari Lombok.
Sebelum meninggalkan Bali dan kembali ke negaranya, tamu tersebut kemudian memilih menghibahkan satu cakep lontar itu ke Museum Lontar Dukuh Penaban.
Pengelola Museum Pustaka Lontar, I Nengah Suarya, mengatakan, naskah tidak bisa dibaca saat diterima. Beberapa orang mencoba mengidentifikasi dan membaca tulisannya. Namun, karakter naskah yang cukup rumit membuat isi lontar belum berhasil diketahui.
“Isi naskah masih menjadi misteri karena sulit dibaca. Sejumlah pihak sempat mencoba membaca naskah tersebut, namun menghadapi kendala karena karakter tulisannya dan kondisi lontar yang cukup rumit. Makanya untuk sementara kita namai lontar misterius,” kata Jro Nengah Suarya, Kamis (8/10/2026).
Walaupun masih misterius, pihak museum tetap melakukan upaya penyelamatan terhadap lontar tersebut. Prosesnya diawali dengan konservasi untuk menjaga kondisi fisik naskah, sebelum kemudian melibatkan tim digitalisasi dan klinik lontar untuk mengungkap isi tulisan di dalamnya.
Pihak museum sempat mencoba menelusuri asal – usul lontar, dengan cara menghubungi sejumlah kenalan di Lombok. Namun, mereka juga belum mengetahui secara pasti mengenai isi naskah lontara yang kini menjadi bagian dari koleksi Museum. “Sampai sekarang belum tahu isi lontar,” tegasnya.
Dari koleksi yang ada, sebanyak 343 naskah telah berhasil teridentifikasi. Sementara itu, masih terdapat 78 naskah yang belum teridentifikasi dan membutuhkan penelusuran lebih lanjut.
Pelestarian tidak berhenti pada penyimpanan fisik. Museum juga melakukan pencatatan dan perawatan terhadap lontar, termasuk melalui katalog yang menyertai koleksi.
Namun, proses digitalisasi seluruh koleksi masih menghadapi kendala keterbatasan sumber daya manusia. Tidak semua naskah dapat segera didigitalisasi karena membutuhkan tenaga yang memiliki kemampuan khusus dalam membaca, mengidentifikasi, merawat, dan mengolah naskah lontar.
“Dari 343 cakep lontar yang ada di museum kebanyakan tentang usada, sastra, kepemangkuan, babad dan lainnya,” tambah Jro Nengah Suarya.
Upaya memperluas akses terhadap naskah kuno juga dilakukan melalui koleksi salinan sekitar 4.000 naskah dari Leiden. Sebagian koleksi tersebut telah dialihaksarakan ke bahasa latin. (*)



















